Kapok Menyelundup dan Bisnis Ilegal Logging

Pontianak Post
Rabu, 06 Juli 2011 , 08:28:00
KAPAL MANTAN NAPI: KM Cahaya Borneo dikelola para mantan napi dan berhasil memberi penghidupan yang layak bagi ABK-nya.  HARYADI/PONTIANAK POST
    Seperti kapal-kapal angkut lainnya, fisik KM Cahaya Borneo tampak wajar.  Demikian pula dengan  kapten dan para anak buah kapalnya yang ramah.  Namun jika dirunut riwayatnya, kapal ini lekat dengan sejarah kelam  penebangan hutan ilegal dan penyelundupan kayu yang membabi buta di  tanah Borneo.Aristono Edi K, Pontianak

Betapa tidak, kapal kayu sebesar lapangan tenis tersebut dimiliki oleh  terpidana kasus illegal loging, Tony Wong. Kalau masih ingat, orang ini  sempat menjadi sorotan utama di sejumlah media massa nasional dan  internasional, tahun 2007 sampai 2008 silam. Gara-gara mulutnya,  sejumlah praktik pembalakan liar di Ketapang, Kalimantan Barat  terbongkar. Kasus besar yang melibatkan perwira-perwira kepolisian.Ujung-ujungnya, Tony sendiri dipenjara hingga sekarang dengan tuduhan  yang juga berkaitan dengan pembabatan hutan. Setali tiga uang, nahkoda  hingga ke para ABK-nya pun merupakan mantan Napi kasus illegal loging.  Setidak-tidaknya ini yang diceritakan Arif Rahman Hakim (34 tahun),  Kapten Kapal rute Pontianak-Ketapang ini.

Kapal ini mulai beroperasi dengan nama Cahaya Borneo sejak tanggal 3  Februari 2010. Sebelumnya bernama Bintang Teladan. Lalu kenapa namanya  berganti? “Cahaya Borneo itu ada artinya. ‘Borneo’ itu nama bilik tempat  kami dan Pak Tony Wong ditahan di Polres Ketapang. Kalau ‘cahaya’,  supaya bisa menuntun kami menjauh dari kegelapan,” ungkap Arif.Awalnya, kapal ini dikelola oleh empat alumnus bilik ‘Borneo’, selain  Arif, ada Made, Maman, dan Agus. Orang-orang ini satu sel dengan Tony  Wong di tahanan tersebut. Sebelumnya, mereka berempat tidak saling kenal  dengan Tony. Bahkan, menurut pengakuan Arif, kegiatan bisnis ilegal  mereka justru terusik karena aduan Tony. Namun di penjara mereka mulai  bergaul dengan Tony hingga menjadi sangat akrab. Arif kemudian ditawari  mengelola kapal tua Tony setelah bebas dari penjara.

“Saya dulu adalah supir Kapal Putra Pesaguan, yang mengangkut kayu-kayu  untuk diselundupkan ke Malaysia. Kawan-kawan (tiga orang lainnya) yang  lain pun sama, kasus kayu ilegal juga.Yang saya kesal, bos saya tidak  ditahan, kami yang kecil-kecil jadi korbannya. Dia juga sama sekali  tidak pernah menjenguk kami. Di situ kami kecewa,” ujar orang yang  ditangkap 3 April 2008 lalu ini.Tanggal 17 Agustus 2009, Arif mengakhiri masa tahanannya. Tiga teman  lainya bebas selang beberapa bulan kemudian, (sementara Tony dipindah ke  Lapas Pontianak, sekarang belum bebas). Mereka berempat memutuskan  menerima tawaran Tony, mengarungi lautan. Cahaya Borneo lalu dicat  hijau, melambangkan warna Pulau Kalimantan. Kapal ini bertugas  mengangkut barang-barang kebutuhan rumah tangga dari Pontianak ke  Ketapang. Sebaliknya, dari Ketapang, mereka membawa hasil-hasil alam ke  ibu kota Kalbar. Sekali jalan, mereka bisa mengangkut barang lebih 200  ton beratnya.

Sayang, tiga teman Arif lainnya memutuskan untuk keluar dan memilih  bekerja di darat. “Seakarang mereka sudah sukses di bidangnya  masing-masing. Saya bersyukur kapal ini mampu memberi batu loncatan yang  berarti buat mereka. Yang penting halal,” imbuh ayah dua anak ini. Sebagai informasi, Made beralih menjadi pengusaha arang dapur, Maman  jadi kepala buruh bangunan, sementara Agus memilih jadi supir. Keluar  tiga, masuk tujuh anggota baru. Uniknya, seperti sudah ditakdirkan,  awak-awak baru Cahaya Borneo pun berasal dari background penyelundup  kayu ilegal. “Mereka ini menelepon saya. Mau berhenti main  selundup-selundupan katanya. Mungkin kapal ini kena kutuk, isinya mantan  penyelundup semua” sebut Arif, bercanda.

Masih terlibat bisnis haram? “Tidak lagi, sudah kapok saya. Kita usaha  yang jujur saja, sedikit uangnya tapi bahagia. Buat apa kaya, tapi hati  tidak tentram. Lagi pula saya masih percaya ungkapan yang mengatakan  orang miskin dilarang main-main dengan hukum,” selorohnya.Soal fulus (uang), Arif mengatakan penghasilannya tiap bulan mampu  menghidupi istri dan anak-anaknya. “Dulu waktu BBM belum naik, kami  banyak dapat (uang). Sekarang, lumayanlah, sebulan saya dapat lima  sampai enam juta (rupiah). Kalau ABK, dua setengah sampai tiga juta  (rupiah). Bisa dapat segini karena kami sama sekali tidak menyetor ke  yang punya kapal. Dianya tak mau,” tutur Arif. (*)

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: